Biografi Mary Shelley

Artikel ini dibuat dengan bantuan Ratu AI PRO

Biografi Mary Shelley

Mary Shelley, penulis novel gotik terkenal “Frankenstein; or, The Modern Prometheus”, merupakan sosok yang memiliki pengaruh besar dalam dunia sastra. Hidupnya yang penuh dengan tragedi dan keberanian telah membentuk karya-karyanya yang ikonik. Dalam artikel biografi Mary Shelley ini, kita akan menjelajahi perjalanan hidup Mary Shelley, dari masa kecilnya hingga kesuksesannya sebagai penulis, serta pengaruhnya yang bertahan hingga saat ini.

Masa Kecil dan Keluarga

Mary Shelley, yang lahir dengan nama Mary Wollstonecraft Godwin pada 30 Agustus 1797 di London, Inggris, merupakan anak dari dua tokoh intelektual terkemuka pada zamannya. Ibunya, Mary Wollstonecraft, adalah seorang penulis dan filsuf yang dikenal dengan karyanya yang revolusioner, “A Vindication of the Rights of Woman”. Sayangnya, Wollstonecraft meninggal akibat komplikasi pasca melahirkan Mary. Ayahnya, William Godwin, juga seorang filsuf dan penulis politik yang berpengaruh.

Meskipun tidak pernah mengenal ibunya secara langsung, Mary tumbuh dengan kecintaan yang mendalam terhadap sosok ibunya. Ia sering mengunjungi makam ibunya dan membaca karya-karyanya. William Godwin menikah lagi dengan Mary Jane Clairmont, yang membawa dua anaknya ke dalam keluarga tersebut. Hubungan Mary dengan ibu tirinya tidaklah mudah, namun ia menemukan kedekatan dengan saudara tirinya, terutama Claire Clairmont.

Pendidikan Mary sebagian besar didapatkan melalui bibliotek ayahnya yang luas. Ia mengakses karya-karya sastra dan filsafat dari usia dini, yang membentuk pandangannya tentang dunia. Godwin juga mengenalkan Mary kepada para pemikir dan penulis terkemuka yang sering berkunjung ke rumah mereka, termasuk Samuel Taylor Coleridge dan William Wordsworth.

Pada usia 16 tahun, Mary jatuh cinta pada Percy Bysshe Shelley, seorang penyair muda yang sudah menikah. Hubungan mereka menimbulkan skandal, mengingat Percy masih memiliki istri. Namun, pasangan tersebut melarikan diri ke Eropa bersama Claire Clairmont pada tahun 1814. Perjalanan ini akan menjadi titik balik dalam hidup Mary dan memberikan inspirasi bagi karya-karyanya di masa depan.

Penciptaan “Frankenstein”

Selama perjalanan mereka di Eropa, Mary, Percy, dan Claire menghabiskan waktu bersama Lord Byron, seorang penyair terkenal, di Villa Diodati di Swiss. Di sanalah tantangan untuk menulis cerita horor yang menginspirasi Mary untuk menciptakan “Frankenstein” muncul.

Pada malam yang penuh badai di Villa Diodati, ketika Mary berusia 18 tahun, Byron mengusulkan agar setiap orang dalam kelompok tersebut menulis sebuah cerita horor. Mary, awalnya kesulitan menemukan ide, mendapatkan inspirasi dari diskusi tentang prinsip kehidupan dan eksperimen ilmiah terkini. Ia membayangkan seorang ilmuwan yang berhasil menciptakan makhluk hidup dari potongan-potongan mayat.

Mary mulai menulis novel “Frankenstein” yang akan menjadi mahakarya dalam hidupnya. Ia mengerjakan novel tersebut selama beberapa bulan, menggabungkan minatnya terhadap sains, filsafat, dan pertanyaan-pertanyaan tentang sifat kemanusiaan. Novelnya mengeksplorasi tema-tema seperti ambisi manusia, hubungan antara pencipta dan ciptaannya, serta konsekuensi dari menantang batas-batas alam.

“Frankenstein” akhirnya diterbitkan secara anonim pada tahun 1818, ketika Mary berusia 20 tahun. Novel tersebut mendapatkan tanggapan yang beragam, dengan beberapa kritikus memuji orisinalitas dan kedalaman filosofisnya, sementara yang lain terkejut dengan temanya yang mengganggu. Namun, novel tersebut segera mendapatkan status sebagai karya sastra gotik yang ikonik dan memberikan pengaruh yang tak terhapuskan dalam budaya populer.

Penciptaan “Frankenstein” tidak hanya menandai awal karir Mary sebagai penulis, tetapi juga memantapkan posisinya sebagai salah satu pionir dalam genre fiksi ilmiah. Karyanya mengeksplorasi hubungan antara ilmu pengetahuan dan etika, sebuah tema yang terus relevan hingga saat ini.

Tragedi Pribadi dan Karya Selanjutnya

Kehidupan pribadi Mary Shelley diwarnai dengan tragedi yang mempengaruhi karya-karyanya. Pada tahun 1816, ia menikah dengan Percy Bysshe Shelley setelah kematian istri pertama Percy. Namun, pernikahan mereka ditandai dengan kesedihan, termasuk kematian anak pertama mereka, Clara, pada tahun 1818.

Tragedi kembali menimpa ketika anak kedua mereka, William, meninggal karena malaria pada tahun 1819. Kesedihan yang mendalam ini tercermin dalam karya Mary selanjutnya, seperti novel “Mathilda” yang mengeksplorasi tema kehilangan dan duka.

Pada tahun 1822, Percy Bysshe Shelley meninggal dalam kecelakaan perahu di Italia, meninggalkan Mary sebagai janda di usia 24 tahun dengan anak mereka yang selamat, Percy Florence. Kematian suaminya menimbulkan kesedihan yang tak terperi bagi Mary, namun juga mendorongnya untuk terus menulis sebagai sarana ekspresi dan penghidupan.

Setelah kematian Percy, Mary kembali ke Inggris dengan Percy Florence dan memfokuskan diri pada karir menulisnya. Ia menerbitkan beberapa novel lagi, termasuk “Valperga” (1823) dan “The Last Man” (1826), yang mengeksplorasi tema-tema politik dan filosofis.

Mary juga bekerja untuk melestarikan warisan sastra Percy Bysshe Shelley. Ia mengumpulkan dan menyunting puisi-puisinya, serta menulis biografi penyair tersebut. Upayanya membantu memantapkan posisi Percy sebagai salah satu penyair Romantik terkemuka dalam kanon sastra Inggris.

Meskipun karya-karya Mary setelah “Frankenstein” tidak mencapai tingkat kesuksesan yang sama, ia terus menulis dan terlibat dalam lingkaran sastra hingga akhir hidupnya. Ia meninggal pada tahun 1851 di usia 53 tahun, meninggalkan warisan sastra yang tak terhapuskan.

Warisan dan Pengaruh

Warisan Mary Shelley sebagai penulis dan pemikir terus hidup hingga saat ini. “Frankenstein” tetap menjadi salah satu novel paling terkenal dan berpengaruh dalam sastra Inggris, dengan adaptasi tak terhitung jumlahnya dalam berbagai media, termasuk film, teater, dan komik.

Penciptaan “Frankenstein” oleh Mary Shelley sering dianggap sebagai titik awal genre fiksi ilmiah modern. Novelnya mengeksplorasi gagasan tentang sains, teknologi, dan hubungannya dengan masyarakat, sebuah tema yang terus menjadi pusat fiksi ilmiah hingga saat ini. Karakter Victor Frankenstein dan monster ciptaannya telah menjadi ikon budaya yang dikenali secara universal.

Selain kontribusinya pada fiksi ilmiah, Mary Shelley juga dianggap sebagai tokoh penting dalam gerakan Romantisme. Karya-karyanya mencerminkan nilai-nilai dan keprihatinan utama gerakan tersebut, termasuk penekanan pada imajinasi, emosi, dan hubungan antara manusia dan alam.

Sebagai wanita penulis di era ketika profesi tersebut didominasi oleh pria, Mary Shelley juga menjadi figur penting dalam sejarah feminisme. Ia menantang norma-norma gender pada masanya dan menunjukkan bahwa wanita mampu menciptakan karya sastra yang kuat dan orisinal.

Warisan Mary Shelley terus menginspirasi generasi penulis, seniman, dan pemikir. Karyanya yang visioner dan mendalam telah meninggalkan jejak tak terhapuskan dalam imajinasi kultural kita, menjadikannya salah satu tokoh sastra paling penting dan abadi dalam sejarah.

Kesimpulan

Mary Shelley menjalani kehidupan yang ditandai dengan tragedi pribadi, namun juga dipenuhi dengan kreativitas dan ketahanan yang luar biasa. Melalui mahakarya “Frankenstein”, ia tidak hanya menciptakan sebuah novel gotik yang ikonik, tetapi juga memberikan kontribusi yang tak terhapuskan pada perkembangan fiksi ilmiah dan budaya populer.

Warisan Mary Shelley melampaui karya-karyanya. Sebagai wanita penulis di era yang didominasi oleh pria, ia menjadi sosok yang menginspirasi dan membuktikan kekuatan imajinasi dan suara perempuan. Hidupnya yang diwarnai dengan tragedi dan ketahanan mencerminkan semangat era Romantik di mana ia hidup, dan karya-karyanya terus berbicara kepada audiens kontemporer dengan tema-tema universalnya tentang ambisi manusia, hubungan, dan konsekuensi dari kemajuan ilmiah.

Mary Shelley akan selalu dikenang sebagai penulis visioner yang karyanya melampaui zamannya. Melalui “Frankenstein” dan karya-karya lainnya, ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang sifat kemanusiaan dan hubungan kita dengan kekuatan penciptaan. Warisannya tetap hidup dalam imajinasi kita, menginspirasi generasi baru penulis, seniman, dan pemikir untuk mengeksplorasi misteri, keindahan, dan bahaya dari kreativitas manusia.

Belum Kenal Ratu AI?

Ratu AI adalah Layanan Generative Teks AI terbaik di Indonesia yang memungkinkan Anda untuk menyempurnakan beragam jenis tulisan dengan bantuan AI. Platform ini memudahkan Anda dalam membuat artikel, esai, cerita, hingga laporan profesional dengan hasil yang berkualitas. Tidak hanya itu, Ratu AI juga mampu menghasilkan ide-ide inovatif untuk mengembangkan konten yang menarik dan relevan. Dengan fitur-fitur canggih dan kemudahan penggunaan, Ratu AI menjadi pilihan tepat bagi siapa saja yang ingin meningkatkan kualitas tulisan mereka. Jadi, tunggu apa lagi? Segera kunjungi https://ratu.ai/pricing/ untuk mendaftar dan rasakan manfaat dari Layanan Generative Teks AI terbaik di Indonesia.

FAQ

Apa novel paling terkenal yang ditulis oleh Mary Shelley?

Novel paling terkenal yang ditulis oleh Mary Shelley adalah “Frankenstein; or, The Modern Prometheus”, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1818.

Bagaimana latar belakang keluarga Mary Shelley mempengaruhi perkembangan intelektual dan kreativitasnya?

Mary Shelley lahir dari dua tokoh intelektual terkemuka pada zamannya, Mary Wollstonecraft dan William Godwin. Meskipun ibunya meninggal saat Mary masih bayi, ia tumbuh dengan kecintaan yang mendalam terhadap sosok dan karya-karya ibunya. Bibliotek ayahnya yang luas dan lingkaran intelektual yang sering berkunjung ke rumah mereka memberikan pengaruh besar dalam perkembangan intelektual dan kreativitas Mary.

Bagaimana penciptaan “Frankenstein” oleh Mary Shelley berkontribusi pada perkembangan genre fiksi ilmiah?

Penciptaan “Frankenstein” oleh Mary Shelley sering dianggap sebagai titik awal genre fiksi ilmiah modern. Novel tersebut mengeksplorasi gagasan tentang sains, teknologi, dan hubungannya dengan masyarakat, sebuah tema yang terus menjadi pusat fiksi ilmiah hingga saat ini. Karya Shelley menunjukkan bahwa fiksi dapat digunakan untuk mengeksplorasi konsekuensi dari kemajuan ilmiah dan teknologi.

Bagaimana Mary Shelley mengatasi tragedi pribadi dalam hidupnya dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi karya-karyanya?

Kehidupan Mary Shelley diwarnai dengan tragedi, termasuk kematian ibunya, suaminya Percy Bysshe Shelley, dan beberapa anaknya. Meskipun menghadapi kesedihan yang mendalam, Mary menemukan kekuatan dalam menulis. Tragedi pribadinya tercermin dalam karya-karyanya yang sering mengeksplorasi tema kehilangan, duka, dan ketahanan manusia dalam menghadapi kesengsaraan.